BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Bakteri adalah salah satu mikroorganisma
yang menjadi masalah besar dalam dunia kesehatan. Setiap bakteri menyebabkan
infeksi yang berbeda jika kontak dengan host. Misalnya diare yang disebabkan
oleh bakteri E.coli, pneumonia yang disebabkan oleh streptococcus pnumoniae, tb
paru disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan lain-lain. Oleh sebab itu
maka identifikasi setiap bakteri penyebab infeksi adalah hal yang penting untuk
diketahui.
Meskipun isolasi dan identifikasi
mikrobiologi penyebab kontaminasi atau infeksi dilakukan dengan menggunakan
media pertumbuhan mikroorganisma dan uji biokimia, namun salah satu petunjuk
awal untuk identifikasi adalah bentuk morfologi bakteri.
Pewarnaan bakteri adalah prosedur yang
paling mudah untuk membedakan jenis bakteri satu dan lainnya berdasarkan bentuk
dan struktur dinding selnya. Pewarnaan bakteri akan dapat melihat bentuk
morfologi (batang, coccus, koma, dan spiral) dan pengelompokan bakteri (gram
positif dan gram negatif).
Praktikum
kali ini akan mempraktekkan cara pewarnaan bakteri untuk melihat bentuk
morfologi bakteri dengan teknik pewarnaan sederhana dan pewarnaan negatif.
Sedangkan pengelompokkan jenis bakteri berdasarkan struktur dinding sel bakteri
ditentukan dengan pewarnaan gram atau pewarnaan BTA.
B.
Tujuan
praktikum
1. Menerapkan
teknik pewarnaan sederhana, pengecatan gram dan pengecatan negatif untuk
pengamatan bentuk morfologi bakteri.
2. Menentukan
penggolongan bakteri dengan metode pewarnaan gram.
C.
Prinsip percobaan
Memahami dan membedakan teknik pewarnaan
sederhana dengan memberikan metilen-biru dan pewarnaan gram dengan memberikan
kristal violet, lugoli, asam alkohol, safranin, dan minyak imersi dengan
menggunakan mikroskop untuk melihat morfologi dari masing-masing bakteri.
D.
Manfaat
praktikum
Memahami cara pengamatan bentuk morfologi
bakteri dengan menggunakan metode pewarnaan sederhana, pewarnan negatif,
pewaraan gram.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Dasar teori
Proses pewarnaan dimulai dengan membuat
sediaan bakteri pada kaca object. Kemudian dilakukan fiksasi dengan pemanasan.
Fiksasi berguna untuk:
1.
Melekatkan specimen pada
gelas object
2. Membunuh
bakteri tanpa merusak morfologinya
3. Memudahkan
bakteri untuk diwarnai, dan
4.
Menyimpan slide yang
belum sempat diwarnai.
Ada
beberapa macam pewarnaan bakteri yang dimatikan yaitu:
1.
Pewarnaan
sederhana
Pewarnaan sederhana disebut pula pewarnaan
langsung atau pewarnaan progresif. Pada pewarnaan sederhana hanya digunakan
satu macam bahan pewarna. Sebagai bahan pewarna dapat berupa metilen-biru,
safranin gentian ungu, fukhsin dan lain-lain. Tujuan pewarnaan sederhana ini
untuk melihat bentuk morfologi bakteri .
2.
Pewarnaan
diferensial
Pewarnaan diferensial karena dengan
melakukan pewarnaan tersebut dapat dibuat diferensiasi dari bakteri yang
diwarnai. Yang termasuk pewarnaan diferensiasi adalah pewarnaan gram dan
pewarnaan tahan asam.
a.
Pewarnaan gram
Pewarnaan gram ditemukan oleh Hans
Christian Gram pada tahun 1884. Berdasarkan pewarnaan gram, bakteri dibagi
menjadi dua golongan, yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
Bakteri gram positif adalah bakteri yang mempertahankan bahan warna dasar
setelah dilakukan proses pelunturan dengan alkohol 96%. Pewarna yang digunakan
adalah kristal violet dan safranin. Kristal violet diberikan sebagai warna
dasar sehingga lebih dahulu diikat oleh dinding sel, kemudian dilunturkan dan
diberi pewarna safranin sebagai penutup. Bakteri yang dapat melepaskan ikatan
zat warna dasar ketika dilunturkan dengan alkohol asam akan meningkatkan zat
warna penutup safranin. Maka bakteri yang mengikat zat wana kristal violet akan
berwarna ungu dan disebut gram positif, sedangkan bakteri yang mengikat zat
warna safranin akan berwarna merah dan disebut gram negatif.
b.
Pewarnaan tahan asam
Pewarnaan tahan asam juga membagi
bakteri menjadi dua golongan, yaitu bakteri tahan asam dan bakteri tidak tahan
asam. Bakteri tahan asam memiliki dinding sel yang banyak mengandung lilin yang
disebut asam mikolat yang menentukan sifat tahan asam dari bakteri tersebut.
Bakteri tahan asam sukar diwarnai, tetapi apabila sudah mengikat bahan pewarna
akan sukar untuk dilunturkan, walaupun dilunturkan dengan alkohol 96% yang
dicampur dengan asam kuat. Oleh karena itu, bakteri tersebut dinamakan bakteri
tahan asam.
3.
Pewarnaan
khusus
Pewarna khusus ditunjukkan untuk
melihat struktur-struktur tertentu dari bakteri misalnya kapsul, flagella, endospora,
granula metakromatis dan sebagainya. Pewarna khusus tersebut dilakukan secara
rutin dilaboratorium mikrobiologi.
a. Pewarnaan
spora
Spora (endospora) dibentuk oleh bakteri
bila lingkungan disekitarnya sangat jelek dan bila keadaan membaik kembali maka
spora tadi akan berubah menjadi vegetatif. Endospora bukan merupakan alat
reproduksi, melainkan alat untuk mempertahankan diri.
Spora
adalah struktur bakteri yang sulit untuk diwarnai tetapi bila telah berkaitan
dengan bahan pewarna sulit dilepaskan. Pewarna spora dapat dikerjakan melalui
beberapa cara, tetapi yang sering digunakan adalah pewarnaan spora menurut
schaeffer fulton.
b. Pewarnaan
kapsul
Untuk melihat kapsul, dapat dilakukan
pewarnaan dengan cara anthony, hiss, dan muir atau dengan pewarnaan negatif
(negatif staning) menggunakan tinta cina (indian ink).
c. Pewarnaan
flagella
Flagella adalah alat
gerak bakteri yang tidak dimiliki oleh semua bakteri dan untuk melihat flagella
tersebut dapat dilakukan pewarnaan cara gray, leifson, atau leifson yang
dimodifikasi.
d.
Pewarnaan metakromasi
Granula metakromatik dimiliki oleh Corynebacterium Diphteriae, dan sebenarnya merupakan cadangan
makanan bagi bakteri. Granula tersebut dinamakan volutine granula. Granula metakromatik dapat diwarnai dengan
pewarnaan metakromasi, misalnya pewarnaan cara neisser.
e. Pewarnaan
polikromasi
Pada pewarnaan ini, bahan
pewarna yang digunakan untuk pewarnaan dicampur jadi satu atau dapat pula
diberikan satu persatu. Bodies dari chalamydia trachomatis. Salah satu contoh
pewarnaan polikromasi adalah pewarnaan giensa yang dapat digunakan untuk melihat
inclusions bodies dari Chlamydia trachomatis. Contoh pewarnaan
yang lain dari polikromasi adalah pewarnaan wright.
BAB III
METODE PERCOBAAN
A.
Alat dan bahan
1. Alat
yang digunakan
a. Deck
gelas
b. Hand
scoon
c. Lampu
spiritus
d. Mikroskop
e. Objek
gelas
f. Ose
bulat dan ose lurus
g. Pipet
tetes
2. Bahan
yang digunakan
a. Kristal
violet
b. Etanol
95%
c. Amonium
oksalat
d. Aquadest
e. Iodine
kristal
f. Potasium
iodine
g. Safranin
h. Larutan
NaCl 0,9%
i.
Suspensi bakteri
j.
Alkohol
k. Minyak
imersi
B.
Prosedur kerja
I. Cara membuat preparat
ulas biakan cair
1.
Dibersihkan kaca objek
dengan kapas alkohol
2.
Diberi kode sampel yang
akan dibuat
3.
Dipindahkan dua mata ose
suspensi bakteri ke bagian tengah kaca objek
4.
Diulaskan suspensi secara
merata dipermukaan kaca objek
5.
Dibiarkan preparat
mengering diudara
6.
Difiksasi di atas api dan
dilakukan pewarnaan bakteri
II. Cara
membuat preparat ulas biakan padat
1.
Dibersihkan kaca objek
dengan kapas alkohol
2.
Diberi kode sampel yang
akan dibuat
3.
Diteteskan 2 mata ose
NaCl-fisiologi ke bagian tengah kaca objek
4.
Disentuhkan ose pada
biakan bakteri kemudian campur dengan NaCL-fisiologi
sehingga merata. Diulaskan campuran ini di atas kaca objek
5.
Dibiarkan preparat
mengering diudara
6.
Difiksasi di atas api dan
dilakukan pewarnaan bakteri
A.
Pewarnaan
gram
Reagen
yang digunakan dalam pewarnaan gram adalah :
a. Crystal violet
Larutan
A : kristal violet 20 gram dan etanol 95% 20 ml
Cara
pembuatan ; kristal violet dilarutkan denga etanol 95 %
Larutan
B : ammonium oksalat 0,8 gram aquadest 8 gram
Cara
pembuatan ; ammonium oksalat dilarutkan dengan aquadest
Cara
pembutan reagen adalah mencampurkan larutan A dan larutan B dan disimpan selama
24 jam sebelum digunakan
b. Garam iodine atau lugol
Iodine
kristal 1 gram dan potassium iodine 2 gram serta aquadest 300 ml
Cara
pembuatan reagen adalah melarutkan potassium iodine dengan 10 ml air kemudian
ditambahkan iodine kristal diaduk hingga larut. Ditambahkan sisa aquadest
hingga volume
c. Larutan safranin
Larutan
stok : safranin 2,5 gram dan etanol 95 % 100 ml
Cara
pembuatan ; safranin dilarutkan dalam etanol 95 % hingga larut
Cara
pembuatan reagen memcampur larutan stok 10 ml dengan aquadest 90 ml
1. Prosedur
kerja pewarnaan gram
1.1 Dibuat sediaan diatas
kaca objek,dikeringkan pada suhu kamar dan dipanaskan diatas nyala
api 3-4 kali. Didinginkan
1.2 Diletakkan
sediaan diatas rak pewarnaan
1.3
Bakteri
pada kaca objek ditetesi pewarna kristal violet, lalu dibiarkan 1 menit agar
zat warna dapat diserap oleh dinding sel bakteri, kemudian dibilas dengan air,
hati-hati janga sampai bakteri terbilas dengan air pembilas
1.4
Bakteri
pada kaca objek ditetesi solution lugoli, lalu dibiarkan 1 menit, kemudian
dibilas dengan air, hati-hati jangan sampai bakteri terbilas dengan air
pembilas
1.5
Dicuci
dengan alkohol asam biarkan hingga warna violet menghilang, segera
cuci dengan air pembilas.
1.6
Bakteri
pada kaca objek ditetesi pewarna safranin, lalu dibiarkan 1 menit agar zat
warna dapat diserap oleh bakteri, kemudian dibilas dengan air.
1.7 Selanjutnya ditetesi
dengan minyak imersi, diamati dibawa mikroskop (amati warna mikroba)
1.8
Catatan : bakteri gram
positif berwarna ungu dan bakteri gram negatif berwarna merah
2. Prosedur
kerja Pewarnaan negatif
2.1
Disiapkan kaca
objek diberi kode sampel
2.2 Diambil
nigrosin atau tinta cina dengan sengkelit dan lekatkan diatas kaca
2.3 Dibuat
suspensi bakteri dengan larutan NaCl 0,9 % 1 tetes
2.4 Dicampurkan
suspensi bakteri dengan nigrosin
2.5 Kemudian
tutup olesan dengan kaca penutup
2.6 Diamati
dibawa mikroskop dengan pembesaran 40 X kemudian 100 X
menggunakan minyak imersi
2.7
Hasil
: kapsul akan tampak sebagai daerah jernih disekitar mikroorganisme
dengan latar belakang sediaan tampak gelap
3. Prosedur
kerja Pewarnaan sederhana
3.1
Pewarnaan
yang digunakan adalah metilen-biru
3.2
Metilen-biru,
sebagai counter stain.
3.3
Metilen-biru
dan aquadest 100 ml
3.4 Cara
pembuatan metilen-biru dilarutkan dalam air. Dapat juga digunakan metilen-biru
menurut loffler
4. Prosedur
kerja pewarnaan sederhana
4.1 Dibuat sediaan diatas
kaca objek, dikeringkan pada suhu kamar dan
kemudian
dipanaskan diatas nyala api 3-4 kali lalu didinginkan
4.2 Diletakkan sediaan diatas
rak pewarnaan
4.3 Dituang larutan
metile-biru hingga menutup sediaan. Didiamkan 1 menit
4.5 Dilihat dibawa mikroskop
dengan pembesaran 100 X, menggunakan
minyak
imersi
4.4 Dibuang larutan dengan
larutan dengan mencuci hingga warna hilang,
kemudian dikeringkan
4.6 Hasil
semua bakteri akan
berwarna biru, bentuknya terlihat jelas
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
NO
|
Metode pewarnaan
|
Hasil pengamatan
|
Keterangan
|
1.
|
Pewarnaan
gram
|
Bakteri di samping adalah bakteri Escrechia.coli. Setelah
di amati di bawah mikroskop ternyata bakteri tersebut bersifat gram positif
karena mengikat warna dari kristal violet yakni warna ungu. bentuk bakteri
tersebut adalah streptococcus (bulat dan berantai).
|
|
2.
|
Pewarnaan
sederhana
|
Bakteri di samping adalah bakteri stapilococcus aureus. Setelah diamati
di bawah mikroskop ternyata bakteri tersebut berbentuk basil (batang). Jika
dilihat tanpa mikroskop warna dari bakteri tersebut biru warna tersebut dari
warna metilen-biru, namun setelah dilihat dengan mikroskop warna tersebut
tidak nampak. Karena pewarnaan sederhana ini hanya menggunakan satu jenis
pewarna saja.
|
B.
Pembahasan
Laporan
praktikum mikrobiologi kali ini adalah pewarnaan dan pengamatan morfologi pada
bakteri. Pewarnaan gram merupakan salah satu teknik pewarnaan yang dikerjakan
dilaboratorium mikrobiologi untuk kepentingan identifikasi mikroorganisme.
Morfologi mikroskopik mikroorganisme yang diperiksa dan sifatnya yang khas
terhadap pewarnaan tertentu (pewarnaan gram) dapat digunakan untuk identifikasi
awal. Pewarnaan gram dibagi menjadi dua hasil yaitu gram positif dan gram
negatif, tergantung dari reaksi dinding sel terhadap tinta safranin atau
kristal violet.
Proses
sterilisasi sangat penting dibutuhkan sebelum memulai maupun mengakhiri sebuah
pekerjaan dilaboratorium dengan menggunakan teknik aseptik. Alkohol 70% yang
disemprotkan pada tangan, kaca preparat dan meja, bahkan tanganpun sebelumnya
harus dicuci dengan sabun terlebih dahulu. Hal tersebut berfungsi untuk
membunuh mikroorganisme yang tak diinginkan agar mendapatkan pengukuran yang
akurat.
Pada
proses pewarnaan gram, harus gelas objek yang bersih. Pembersihan ini dilakukan
supaya gelas objek bebas lemak dan debu. Pembersihan biasanya menggunakan
alkohol. Setelah dicuci kemudian diberi satu tetes aquadest pada permukaan
gelas objek. Kultur bakteri murni diambil dan diratakan diatas kaca objek.
Pengambilan kultur bakteri tidak diambil terlalu banyak, karena jika terlalu
banyak akan sulit diratakan dan apabila kultur bakteri tidak dapat diratakan
tipis-tipis maka bakteri akan tertimbun hal ini akan mengakibatkan pemeriksaan
bentuknya satu per satu menjadi tidak jelas.
Apabila
sudah kering, dilakukan fiksasi dengan cara melewatkan diatas nyala api. Proses
fiksasi dilakukan supaya bakteri benar-benar melekat pada kaca objek sehingga
olesan bakteri tidak akan terhapus apabila dilakukan pencucian. Yang perlu diperhatikan
dalam proses fiksasi adalah bidang yang mengandung bakteri dijaga agar tidak
terkena nyala api.
Setelah
dilakukan fiksasi kemudian ditetesi dengan kristal violet sebagai pembentukan
warna dasar bagi bakteri dan didiamkan selama 1 menit. Setelah itu dilakukan
pembilasan pada bakteri, dapat dilihat jelas bahwa setelah pemberian kristal
violet bakteri tersebut mengikat zat berwarna ungu dari kristal violet
tersebut. Kemudian ditetesi alkohol asam untuk melunturkan warna dari kristal
violet, didiamkan selama 1 menit, kemudian dibilas. Warna yang tadinya ungu
terang terlihat menjadi ungu muda. Setelah itu ditetesi solutio lugoli untuk
memperekat bakteri dan memberi warna yang jelas. Setelah pembilasan ditambahkan
lagi safranin sebagai warna penutup, guna melihat bakteri tersebut mengikat zat
berwarna ungu ataupun merah. Untuk lebih jelasnya, bakteri tersebut diamati
dengan mikroskop namun sebelumnya ditetesi dengan minyak imersi. Melalui
mikroskop tersebut, akan terlihat jelas bakteri tersebut gram positif ataukah
gram negatif. Dapat dilihat di tabel pengamatan.
Perbedaan
dasar antara bakteri positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya.
Komplek zat iodin terperangkap antara dinding sel dan membran sitoplasma
organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel
organisme gram negatif dengan pencucian alkohol memungkinkan hilang dari sel.
Bakteri gram positif memiliki membran tunggal yang dilapisi peptidoglikan yang
tebal sedangkan bakteri negatif lapisan peptidoglikannya tipis.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, pelunturan warna, substrat,
intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Suatu preparat yang
sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam encer maka zat warna
terhapus. Sebaliknya terdapat juga preparat yang tahan terhadap asam encer.
Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri yang tahan asam, dan ini
merupakan ciri khas dari suatu species.
Pewarnaan
sederhana merupakan pewarnaan yang paling umum digunakan. Berbagai macam tipe
morfologi (coccu, bacillus, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan
menggunakan pewarnaan sederhana, yaitu mewarnai sel-sel bakteri yang hanya
digunakan satu macam zat warna saja.
Kebanyakan
bakteri mudah bereaksi dengan pewarnaan-pewarnaan sederhana karena
sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat yang
digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen
kromotofiknya bermuatan positif).
Pada
pewarnaan sederhana, bakteri diwarnai oleh reagen tunggal. Pewarnaan dasar
dengan kromogen (zat warna) muatan positif disarankan selama asam nukleat
bakteri dan komponen dinding sel membawa muatan negatif yang menyerap dengan
kuat dan mengikat kation kromogen perlu diperhatikan lamanya waktu pewarnaan
tergantung pada jenis pewarnaan yang digunakan. Misalnya metilen-biru berserap
selama 2-3 menit, dengan demikian bakteri yang terdapat pada sampel akan
menyerap zat warna yang diberikan. Pengecatan sederhana digunakan untuk
memperlihatkan atau memperjelas kontras antara sel dan latar belakangnya
sehingga dapat mempertajam bentuk dari sel-sel mikroba itu sendiri, dengan cara
mewarnai sel-sel mikroba dengan zat khususnya warna kristal violet.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil pengamatan pewarnaanbakteri
Eschericiacoli bersifat gram positif
karena mengikat warna dari kristal violet yaitu warna ungu. Sedangkan pada pengamatan
pewarnaan sederhana bakteri stapilococcus aureus memiliki
berbentuk basil dan tidak menghasilkan warna yang dilihat dibawah mikroskop
pada perbesaran 100x10
B.
Saran
Adapun sehubungan dengan praktikum
ini, khususnya ditujukan bagi mahasiswa yaitu diharapkan bagi seluruh mahasiswa
agar selama kegiatan praktikum ini berlangsung, mahasiswa harus menggunakan
alat pelindung diri. Diharapkan pula bagi semua mahasiswa, bahwa selama
kegiatan praktikum ini berlangsung, agar semua mahasiswa bersungguh-sungguh
dalam melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Cappuccino, J,G, 1983,Microbiology A
Laboratorium Manual,
Addison-Wesley
Publishing Company
,New York.
Dwidjoseputro,1994, Mikrobiologi untuk Universitas, Ganesha Epect: Bandung.
Gozali,
Amir,2009. Pewarnaan Gram.
Madigan, M,T, 2003,Brock
Biology of Microorganisme, Pearson Education;
inc.
United.
Pakadang, S,R,
2016,Buku
Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi,
Makassar;
Poltekkes.
LAMPIRAN
LATIHAN SOAL
Pewarnaan
bakteri bertujuan untuk membedakan jenis bakteri satu dengan bakteri lainnya
berdasarkan bentuk morfologi dan struktur selnya. Pewarnaan sederhana
menggunakan pewarna metilen-biruyang menyebabkan bakteri akan terlihat morfologi
yang jelas sedangkan pewarnaan gram menggunakan pewarna dan reagen
berturut-turut kristal violet, alkohol asam, solutio lugoli, dan larutan
safranin. Dimana bakteri gram positif akan terlihat sebagai warna ungu, sedangkan bakteri gram negatif terlihat
sebagai warna merah. Pewarnaan negatif menggunakan pewarna safranin
yang menunjukkan bentuk bakteri sebagai warna merah dengan latar
belakang kaca objek yang berwarna hijau bening. Dengan pewarnaan bakteri
akan tampak dengan bentuk-bentuk batang, coccus, koma, dan spiral.
Komentar
Posting Komentar